Loading...

Sabtu, 15 Mei 2010

ARTIKEL PENDIDIKAN BAHASA ARAB 2

URGENSI "BIY'ATUL AROB" MELALUI ARABIC DAYS DALAM
BELAJAR BAHASA ARAB

"Allughoh hiya Al-'Adah wattiqroor"
Bahasa adalah adat dan diucapkan secara berulang-ulang ( Ibnu Jinny )

I. PENDAHULUAN
Manusia sejak ia dilahirkan hingga berusia kurang lebih empat tahun belum dapat berbicara dengan baik. Informasi bahasa yang ia dapatkan baik itu di keluarga atau di lingkungan baru terekam dalam memori otak saja, belum sampai pada output yang sempurna, meskipun ia berkeinginan menyampaikannya secara lugas dan matang. Inilah kenyataan hidup manusia. Ia baru mampu mengucapkan sesuatu yang ada dalam memori otaknya dengan baik jika telah berusia di atas lima tahun.
Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa pada saat kita kecil informasi-informasi kebahasaan ( baca:kosa kata ) yang masuk dalam diri kita dapat terekam dengan cepat dan menyeluruh. Informasi inilah yang kemudian dapat menjadi karakter kebahasaan seseorang.
Sebagai contoh seorang anak kecil yang berasal dari Indonesia, apabila ia tinggal dalam keluarga dan lingkungan yang disana menggunakan bahasa arab, maka bahasa yang ia kenal dan ia pakai disaat dewasa nanti adalah bahasa arab. Kenapa demikian?
Dan apakah kita yang berasal dari Indonesia dan berada dalam lingkungan tempat tinggal Indonesia dapat berbahasa arab dengan baik sebagaimana anak kecil tadi? Dan apakah ketika bahasa arab tersebut dipelajari dalam suatu lembaga pendidikan mampu membuat karakter peserta didiknya seperti anak kecil tadi?
Dan apakah ketika bahasa arab tersebut dipelajari dalam suatu lembaga pendidikan mampu membuat karakter peserta didiknya seperti anak kecil yang dapat berbicara bahasa arab dengan baik? Bagaimana lembaga pendidikan yang mengajarkan bahasa arab mampu membuat peserta didiknya  berada dalam didikan dan pengajaran langsung seperti nuansa arab?
Di sinilah letak pokok bahasan dan rumusan pembahasan makalah ini dibuat. Karena selama ini bahasa arab bagi kebanyakan pelajar atau mahasiswa merupakan pelajaran yang menakutkan. Jika image bahasa arab sedemikian "menyeramkan" bagaimana mungkin bahasa arab mampu menjadi bahasa yang dikuasai oleh mereka.
II. PEMBAHASAN
Pendapat Ibnu Jinny yang mengatakan bahwa "bahasa adalah adat dan diucapkan secara berulang-ulang" apabila kita kaitkan dengan cerita anak kecil yang dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan arab sangatlah relevan dan masuk akal. Karena antara bahasa dan adat suatu bangsa tidak dapat dipisahkan. Dan jika bahasa itu merupakan suatu adat maka bahasa tersebut sangat besar sekali dalam mempengaruhi kehidupan seseorang di mana ia berinteraksi dengan lingkungannya.
Dalam hal ini, pendidikan bahasa arab di lembaga pendidikan formal baik Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs.) atau Madrasah Aliyah (MA) kurang mendapatkan porsi uyang cukup. Di samping porsi jam pelajaran yang kurang, lingkungan tempat belajar (sekolah) kurang (untuk tidak mengatakan "tidak") mendukung terciptanya suasana arab.
Selain itu kompetensi guru, media belajar dan literatur yang terbatas juga menjadikan bahasa arab semakin terpuruk eksistensinya dimata siswa. Bahasa arab menakutkan, sulit dan tidak marketable. Dalam keadaan doktrin yang sudah melekat ini menumbuhkan minat untuk mempelajari bahasa arab sangatlah sulit.
Salah satu jalan keluar (problem solving) dari maslah yang sudah akut ini adalah adanya pembenahan pelajaran bahasa arab ditiap jenjang pendidikan. Kurikulum bahasa arab yang diberikan pemerintah (dalam hal ini kementrian Agama RI ) terhadap tiap tingkat satuan pendidikan jangan lagi hanya sekedar memberikan "kulit" dari esensi bahasa arab itu sendiri. Pelajaran bahasa arab yang diberikan guru harus aplikatif terhadap kehidupan siswanya, sehingga siswa mampu menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu guru, kepala sekolah dan staf lainnya harus membuat satu program yang dapat mendukung proses belajar bahasa arab siswa di luar jam pelajaran. Sebagai contoh sekolah bisa saja membuat program hari bahasa arab (arabic days). Tiga hari dalam satu minggu siswa wajib berkomunikasi dengan menggunakan bahasa arab. Bisa saja dalam hal ini sekolah memberikan sanksi yang mendidik bagi siswa yang melanggarnya. Di samping itu untuk sarana pendukung program tersebut sekolah harus membuat tulisan-tulisan bahasa arab yang ditempel pada benda-benda disekitar yang tujuannya sebagai guide bagi siswa dalam berkomunikasi (baca:mencari kosa kata).
Jika program hari bahasa ini berjalan maka setahap demi setahap akan timbul kebiasaan (adat), meskipun pada tahap awal struktur bahasa arab yang dipakai oleh siswa/i akan bercampur baur dengan bahasa ibu (lughotul Umm). Pada tahap ini, guru jangan terlebih dahulu memberikan teguran atau sanksi atau secara langsung mengkoreksi kesalahan siswa tersebut. Biarkan siswa mengekspresikan bahasa arab sesuai dengan kehendaknya. Tahap kedua, guru memberikan stimulus kepada siswa, dapat berbentuk lagu-lagu bahasa arab atau syair-syair arab. Namun jangan terlebih dahulu memberikan terjemahannya secara gamblang, berikan intinya saja. Hal ini perlu dilakukan agar siswa tidak merasa jenuh dan secara psikologis mampu membangkitkan semangat siswa. Tahap ketiga, guru mulai memperhatikan grammer tata bahasa yang diucapkan dalam komunikasi siswa, dan dapat secara langsung mengkoreksi bahasa tersebut.
Secara berkala, tahap demi tahap guru harus memberikan ungkapan baru untuk siswa, dan ungkapan tersebut harus sesuai dengan kebudayaan arab, bukan ungkapan yang dipaksakan melalui tejemahan dari bahasa indonesia ke bahasa arab.
III. KESIMPULAN
Kecendrungan berbahasa arab melalui biy'atul arob melalui program arabic days adalah suatu yang sangat harus dilakukan guru untuk merumuskan dan mengaplikasikan program tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi kekurangan jam pelajaran bahasa arab di sekolah. Adapun langkah-langkah yang perlu diperhatikan guru sebelum memulai program ini adalah sbb:
  1. Guru dan kepala sekolah serta civitas lainnya harus beri'tikad untuk ikutmensukseskan arabic days dan siap untuk ikut mensukseskannya.
  2.  Guru bahasa arab harus menjadi motivator sekaligus tutor dalam membimbing civitas sekolah dan siswanya dengan memberikan aneka stimulus.
  3. Guru bahasa arab harus rajin memberikan ungkapan-ungkapan bahasa arab untuk program ini.
  4. Guru bahasa arab dan kepala sekolah melakukan evaluasi dan monitoring setiap bulannya, serta membuat grafik kemajuan siswa dalam berbahasa arab
Penulis
Marzuki, S.Ag.
Staf Pengajar B. Arab MTs. Al-Irfan
Karangnunggal Tasikmalaya.,





1 komentar:

Tinggalkan Komentar anda tentang blog ini..!

BERTEMAN DENGAN SAYA