Jumat, 21 Januari 2011

BIOGRAFI IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAH

IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAH

Artikel ini aku tampilkan karena karya Beliau sangat berarti dalam menyelamatkan hidupku.
Beliau adalah Imam, ‘Allamah, Muhaqqiq, Hafizh, Ushuli, Faqih, Ahli Nahwu, berotak cemerlang, bertinta emas dan banyak karyanya; Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak (QAYYIM) bagi madrasah itu. Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Di kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil.
Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya
Bukanlah hal yang aneh jikalau Ibnul Qayyim tumbuh menjadi seorang yang dalam dan luas pengetahuan serta wawasannya, sebab beliau dibentuk pada zaman ketika ilmu sedang jaya dan para ulama pun masih hidup. Sesungguhnya beliau telah mendengar hadits dari asy-Syihab an-Nablisiy, al-Qadli Taqiyuddin bin Sulaiman, Abu Bakr bin Abdid Da’im, Isa al-Muth’im, Isma’il bin Maktum dan lain-lain.
Beliau belajar ilmu faraidl dari bapaknya karena beliau sangat menonjol dalam ilmu itu. Belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab: (al-Mulakhkhas li Abil Balqa’ kemudian kitab al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab al-kafiyah was Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar dari syaikh Majduddin at-Tunisi satu bagian dari kitab al-Muqarrib li Ibni Ushfur.
Belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Ilmu Fiqih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harraniy.
Beliau amat cakap dalam hal ilmu melampaui teman-temannya, masyhur di segenap penjuru dunia dan amat dalam pengetahuannya tentang madzhab-madzhab Salaf.
Pada akhirnya beliau benar-benar bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.
Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dan tepat. Oleh karena itulah Ibnul Qayyim amat mencintainya, sampai-sampai beliau mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnul Qayyim yang menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima.
Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara.
Sebagai hasil dari mulazamahnya (bergurunya secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah, beliau dapat mengambil banyak faedah besar, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitabullah Ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahihah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-Salafus ash-Shalih, membuang apa-apa yang berselisih dengan keduanya, serta memperbaharui segala petunjuk ad-Din yang pernah dipalajarinya secara benar dan membersihkannya dari segenap bid’ah yang diada-adakan oleh kaum Ahlul Bid’ah berupa manhaj-manhaj kotor sebagai cetusan dari hawa-hawa nafsu mereka yang sudah mulai berkembang sejak abad-abad sebelumnya, yakni: Abad kemunduran, abad jumud dan taqlid buta.
Beliau peringatkan kaum muslimin dari adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud model orang-orang hindu ke dalam fiqrah Islamiyah.
Ibnul Qayyim rahimahullah telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para Ulama supaya dapat memperoleh ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.
Penguasaannya terhadap Ilmu Tafsir tiada bandingnya, pemahamannya terhadap USHULUDDIN mencapai puncaknya dan pengetahuannya mengenai HADITS, makna hadits, pemahaman serta ISTINBATH-ISTINBATH rumitnya, sulit ditemukan tandingannya.
Begitu pula, pengetahuan beliau rahimahullah tentang ilmu SULUK dan ilmu KALAM-nya Ahli tasawwuf, isyarat-isyarat mereka serta detail-detail mereka. Beliau memang amat menguasai terhadap berbagai bidang ilmu ini.
Semuanya itu menunjukkan bahwa beliau rahimahullah amat teguh berpegang pada prinsip, yakni bahwa “Baiknya” perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salafus ash-Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syari’ah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah al-‘Aziz serta sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam asy-syarifah.
Oleh karena itu beliau berpegang pada (prinsip) ijtihad serta menjauhi taqlid. Beliau ambil istinbath hukum berdasarkan petunjuk al-Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para shahabat serta apa-apa yang telah disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan A’immatul Fiqhi (para imam fiqih).
Dengan kemerdekaan fikrah dan gaya bahasa yang logis, beliau tetapkan bahwa setiap apa yang dibawa oleh Syari’ah Islam, pasti sejalan dengan akal dan bertujuan bagi kebaikan serta kebahagiaan manusia di dunia maupun di akhirat.
Beliau rahimahullah benar-benar menyibukkan diri dengan ilmu dan telah benar-benar mahir dalam berbagai disiplin ilmu, namun demikian beliau tetap terus banyak mencari ilmu, siang maupun malam dan terus banyak berdo’a.
Sasarannya
Sesungguhnya Hadaf (sasaran) dari Ulama Faqih ini adalah hadaf yang agung. Beliau telah susun semua buku-bukunya pada abad ke-tujuh Hijriyah, suatu masa dimana kegiatan musuh-musuh Islam dan orang-orang dengki begitu gencarnya. Kegiatan yang telah dimulai sejak abad ketiga Hijriyah ketika jengkal demi jengkal dunia mulai dikuasai Isalam, ketika panji-panji Islam telah berkibar di semua sudut bumi dan ketika berbagai bangsa telah banyak masuk Islam; sebahagiannya karena iman, tetapi sebahagiannya lagi terdiri dari orang-orang dengki yang menyimpan dendam kesumat dan bertujuan menghancurkan (dari dalam pent.) dinul Hanif (agama lurus). Orang-orang semacam ini sengaja melancarkan syubhat (pengkaburan)-nya terhadap hadits-hadits Nabawiyah Syarif dan terhadap ayat-ayat al-Qur’anul Karim.
Mereka banyak membuat penafsiran, ta’wil-ta’wil, tahrif, serta pemutarbalikan makna dengan maksud menyebarluaskan kekaburan, bid’ah dan khurafat di tengah kaum Mu’minin.
Maka adalah satu keharusan bagi para A’immatul Fiqhi serta para ulama yang memiliki semangat pembelaan terhadap ad-Din, untuk bertekad memerangi musuh-musuh Islam beserta gang-nya dari kalangan kaum pendengki, dengan cara meluruskan penafsiran secara shahih terhadap ketentuan-ketentuan hukum syari’ah, dengan berpegang kepada Kitabullah wa sunnatur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pengamalan dari Firman Allah Ta’ala:
“Dan Kami turunkan Al Qur’an kepadamu, agar kamu menerangkan kepada Umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl:44).
Juga firman Allah Ta’ala,
“Dan apa-apa yang dibawa Ar Rasul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr:7).
Murid-Muridnya
Ibnul Qayyim benar-benar telah menyediakan dirinya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan melayani dialog. Karena itulah banyak manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang menempatkan ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid beliau. Mereka itu adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya ialah: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-Hambali al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi, Syamsuddin Muhammad bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi’i, Ali bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As Subky, Taqiyussssddin Abu ath-Thahir al-Fairuz asy-Syafi’i dan lain-lain.
Aqidah Dan Manhajnya
Adalah Aqidah Ibnul Qayyim begitu jernih, tanpa ternodai oleh sedikit kotoran apapun, itulah sebabnya, ketika beliau hendak membuktikan kebenaran wujudnya Allah Ta’ala, beliau ikuti manhaj al-Qur’anul Karim sebagai manhaj fitrah, manhaj perasaan yang salim dan sebagai cara pandang yang benar. Beliau –rahimahullah- sama sekali tidak mau mempergunakan teori-teori kaum filosof.
Ibnul Qayiim rahimahullah mengatakan, “Perhatikanlah keadaan alam seluruhnya –baik alam bawah maupun- alam atas dengan segala bagian-bagaiannya, niscaya anda akan temui semua itu memberikan kesaksian tentang adanya Sang Pembuat, Sang Pencipta dan Sang Pemiliknya. Mengingkari adanya Pencipta yang telah diakui oleh akal dan fitrah berarti mengingkari ilmu, tiada beda antara keduanya. Bahwa telah dimaklumi; adanya Rabb Ta’ala lebih gamblang bagi akal dan fitrah dibandingkan dengan adanya siang hari. Maka barangsiapa yang akal serta fitrahnya tidak mampu melihat hal demikian, berarti akal dan fitrahnya perlu dipertanyakan.”
Hadirnya Imam Ibnul Qayyim benar-benar tepat ketika zaman sedang dilanda krisis internal berupa kegoncangan dan kekacauan (pemikiran Umat Islam–Pent.) di samping adanya kekacauan dari luar yang mengancam hancurnya Daulah Islamiyah. Maka wajarlah jika anda lihat Ibnul Qayyim waktu itu memerintahkan untuk membuang perpecahan sejauh-jauhnya dan menyerukan agar umat berpegang kepada Kitabullah Ta’ala serta Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Manhaj serta hadaf Ibnul Qayyim rahimahullah ialah kembali kepada sumber-sumber dinul Islam yang suci dan murni, tidak terkotori oleh ra’yu-ra’yu (pendapat-pendapat) Ahlul Ahwa’ wal bida’ (Ahli Bid’ah) serta helah-helah (tipu daya) orang-orang yang suka mempermainkan agama.
Oleh sebab itulah beliau rahimahullah mengajak kembali kepada madzhab salaf; orang-orang yang telah mengaji langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah sesungguhnya yang dikatakan sebagai ulama waratsatun nabi (pewaris nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pada itu, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewariskan dinar atau dirham, tetapi beliau mewariskan ilmu. Berkenaan dengan inilah, Sa’id meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah Ta’ala,
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (itu) melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu itulah yang haq.” (Saba’:6).
Qotadah mengatakan, “Mereka (orang-orang yang diberi ilmu) itu ialah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan bathilnya madzhab taqlid.
Kendatipun beliau adalah pengikut madzhab Hanbali, namun beliau sering keluar dari pendapatnya kaum Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah melakukan kajian tentang perbandingan madzhab-madzhab yang masyhur.
Mengenai pernyataan beberapa orang bahwa Ibnul Qayyim telah dikuasai taqlid terhadap imam madzhab yang empat, maka kita memberi jawaban sebagai berikut, Sesungguhnya Ibnul Qayyim rahimahullah amat terlalu jauh dari sikap taqlid. Betapa sering beliau menyelisihi madzhab Hanabilah dalam banyak hal, sebaliknya betapa sering beliau bersepakat dengan berbagai pendapat dari madzhab-madzhab yang bermacam-macam dalam berbagai persoalan lainnya.
Memang, prinsip beliau adalah ijtihad dan membuang sikap taqlid. Beliau rahimahullah senantiasa berjalan bersama al-Haq di mana pun berada, ittijah (cara pandang)-nya dalam hal tasyari’ adalah al-Qur’an, sunnah serta amalan-amalan para sahabat, dibarengi dengan ketetapannya dalam berpendapat manakala melakukan suatu penelitian dan manakala sedang berargumentasi.
Di antara da’wahnya yang paling menonjol adalah da’wah menuju keterbukaan berfikir. Sedangkan manhajnya dalam masalah fiqih ialah mengangkat kedudukan nash-nash yang memberi petunjuk atas adanya sesuatu peristiwa, namun peristiwa itu sendiri sebelumnya belum pernah terjadi.
Adapun cara pengambilan istinbath hukum, beliau berpegang kepada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’ Fatwa-fatwa shahabat, Qiyas, Istish-habul Ashli (menyandarkan persoalan cabang pada yang asli), al-Mashalih al-Mursalah, Saddu adz-Dzari’ah (tindak preventif) dan al-‘Urf (kebiasaan yang telah diakui baik).
Ujian Yang Dihadapi
Adalah wajar jika orang ‘Alim ini, seorang yang berada di luar garis taqlid turun temurun dan menjadi penentang segenap bid’ah yang telah mengakar, mengalami tantangan seperti banyak dihadapi oleh orang-orang semisalnya, menghadapi suara-suara sumbang terhadap pendapat-pendapat barunya.
Orang-orang pun terbagi menjadi dua kubu: Kubu yang fanatik kepadanya dan kubu lainnya kontra.
Oleh karena itu, beliau rahimahullah menghadapi berbagai jenis siksaan. Beliau seringkali mengalami gangguan. Pernah dipenjara bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara terpisah-pisah di penjara al-Qal’ah dan baru dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah wafat.
Hal itu disebabkan karena beliau menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan para wali. Akibatnya beliau disekap, dihinakan dan diarak berkeliling di atas seekor onta sambil didera dengan cambuk.
Pada saat di penjara, beliau menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, tadabbur dan tafakkur. Sebagai hasilnya, Allah membukakan banyak kebaikan dan ilmu pengetahuan baginya. Di samping ujian di atas, ada pula tantangan yang dihadapi dari para qadhi karena beliau berfatwa tentang bolehnya perlombaan pacuan kuda asalkan tanpa taruhan. Sungguhpun demikian Ibnul Qayyim rahimahullah tetap konsisten (teguh) menghadapi semua tantangan itu dan akhirnya menang. Hal demikian disebabkan karena kekuatan iman, tekad serta kesabaran beliau. Semoga Allah melimpahkan pahala atasnya, mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya serta segenap kaum muslimin.
Sirah (Riwayat Hidup) Dan Pujian Ulama Terhadap Beliau
Sungguh Ibnul Qayyim rahimahullah teramat mendapatkan kasih sayang dari guru-guru maupun muridnya. Beliau adalah orang yang teramat dekat dengan hati manusia, amat dikenal, sangat cinta pada kebaikan dan senang pada nasehat. Siapa pun yang mengenalnya tentu ia akan mengenangnya sepanjang masa dan akan menyatakan kata-kata pujian bagi beliau. Para Ulama pun telah memberikan kesaksian akan keilmuan, kewara’an, ketinggian martabat serta keluasan wawasannya.
Ibnu Hajar pernah berkata mengenai pribadi beliau, “Dia adalah seorang yang berjiwa pemberani, luas pengetahuannya, faham akan perbedaan pendapat dan madzhab-madzhab salaf.”
Di sisi lain, Ibnu Katsir mengatakan, “Beliau seorang yang bacaan Al-Qur’an serta akhlaqnya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”
Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlaq shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untuk dzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukan imamah dalam hal din (agama).’”
Ibnu Rajab pernah menukil dari adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Mukhtashar, bahwa adz-Dzahabi mengatakan, “Beliau mendalami masalah hadits dan matan-matannya serta melakukan penelitian terhadap rijalul hadits (para perawi hadits). Beliau juga sibuk mendalami masalah fiqih dengan ketetapan-ketetapannya yang baik, mendalami nahwu dan masalah-masalah Ushul.”
(Dan masih banyak lagi pujian ulama terhadap Ibnul Qayyim yang termuat dalam naskah asli berbahasa Arab, yang terjemahannya kini ada di hadapan pembaca, namun dalam hal pujian ulama terhadap beliau ini hanya diterjemahkan secukupnya saja, pent).
Tsaqafahnya
Ibnul Qayyim rahimahullah merupakan seorang peneliti ulung yang ‘Alim dan bersungguh-sungguh. Beliau mengambil semua ilmu dan mengunyah segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir.
Beliau telah menyusun kitab-kitab fiqih, kitab-kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisan-tulisannya tiada terhitung banyaknya, dan diatas semua itu, keseluruhan kitab-kitabnya memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanyalah Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung.
Karya-Karyanya
Beliau rahimahullah memang benar-benar merupakan kamus berjalan, terkenal sebagai orang yang mempunyai prinsip dan beliau ingin agar prinsipnya itu dapat tersebarluaskan. Beliau bekerja keras demi pembelaannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Buku-buku karangannya banyak sekali, baik yang berukuran besar maupun berukuran kecil. Beliau telah menulis banyak hal dengan tulisan tangannya yang indah. Beliau mampu menguasai kitab-kitab salaf maupun khalaf, sementara orang lain hanya mampun menguasai sepersepuluhnya. Beliau teramat senang mengumpulkan berbagai kitab. Oleh sebab itu Imam ibnul Qayyim terhitung sebagai orang yang telah mewariskan banyak kitab-kitab berbobot dalam pelbagai cabang ilmu bagi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan gaya bahasanya yang khas; ilmiah lagi meyakinkan dan sekaligus mengandung kedalaman pemikirannya dilengkapi dengan gaya bahasa nan menarik.
Beberapa Karya Besar Beliau
1. Tahdzib Sunan Abi Daud,
2. I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin,
3. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban,
4. Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan,
5. Bada I’ul Fawa’id,
6. Amtsalul Qur’an,
7. Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan,
8. Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil,
9. At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an,
10. At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris,
11. Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain,
12. Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in,
13. Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’
14. Syarhu Asma’il Kitabil Aziz,
15. Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad,
16. Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’
17. Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am,.
18. Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah,
19. Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah,
20. Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul,
21. Hadi al-Arwah ila biladil Arrah,
22. Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin,
23. al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi,
24. Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,
25. Miftah daris Sa’adah,
26. Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah,
27. Raf’ul Yadain fish Shalah,
28. Nikahul Muharram,
29. Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah,
30. Fadl-lul Ilmi,
31. ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin,
32. al-Kaba’ir,
33. Hukmu Tarikis Shalah,
34. Al-Kalimut Thayyib,
35. Al-Fathul Muqaddas,
36. At-Tuhfatul Makkiyyah,
37. Syarhul Asma il Husna,
38. Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah,
39. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim,
40. Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,
41. Ath-Thuruqul Hikamiyyah, dan masih banyak lagi kitab-kitab serta karya-karya besar beliau yang digemari oleh berbagai pihak.
Wafatnya
Asy-Syaikh al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub az-Zar’i yang terkenal dengan julukan Ibnu Qayyim al-Jauziyah, wafat pada malam Kamis, tanggal 13 Rajab tahun 751 Hijriyah pada saat adzan ‘Isya’. Beliau dishalatkan keesokan harinya sesudah shalat Zhuhur di Masjid Jami’ Besar Dimasyq (al-Jami’ al-Umawi), kemudian dishalatkan pula di masjid Jami’ al-Jirah. Beliau dikuburkan di sebelah kuburan ibunya di tanah pekuburan al-Babus Shaghir. Kuburannya dikenal hingga hari ini.
Jenazahnya banyak dihadiri orang. Disaksikan oleh para Qadhi dan orang-orang shalih dari kalangan tertentu maupun awam. Orang-orang berjubel saling berebut memikul kerandanya. Saat wafat, beliau rahimahullah berumur genap enam puluh tahun.
Semoga Allah senantiasa memberikan keluasan rahmat-Nya kepada beliau.
Maraji’ (Rujukan)
1. Al-Bidayah wan Nihayah libni Katsir,
2. Muqaddimah Zaadil Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, Tahqiq: Syu’ab wa Abdul Qadir al-Arna`uth,
3. Muqaddimah I’lamil Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin; Thaha Abdur Ra’uf Sa’d,
4. Al-Badrut Thali’ Bi Mahasini ma Ba’dal Qarnis Sabi’ karya Imam asy-Syaukani,
5. Syadzaratudz dzahab karya Ibn Imad,
6. Ad-Durar al-Kaminah karya Ibn Hajar al-‘Asqalani,
7. Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Rajab Al Hanbali,
8. Al Wafi bil Wafiyat li Ash Shafadi,
9. Bughyatul Wu’at karya Suyuthi,
10. Jala’ul ‘Ainain fi Muhakamah al-Ahmadin karya al-Alusi,
11. An-Nujum Az-Zahirah karya Ibn Ta’zi Bardiy.
Diterjemahkan dari:
Majalah al-Mujahid no. 12 Th. I, Rabi’uts Tsani 1410 H. Hal 30-33, tulisan Hudzaifah Muhammad al-Missri
Catatan:
Pada sub judul: Pujian Ulama, dan wafatnya; tidak diterjemahkan semua. Diterjemahkan oleh Ahmaz Faiz Asifuddin.
(Sumber: Majalah as-Sunnah, 06/I/1414-1993 dengan sedikit perubahan)
sumber copas  : http://www.alsofwah.or.id/index.php?id=82&pilih=lihattokoh

Jumat, 24 Desember 2010

KISI-KISI ULANGAN KENAIKAN KELAS MADRASAH TSANAWIYAH

Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Kelas/Semester : VII / 2
Alokasi WAktu : 120 Menit
Jumlah Soal : 45
Bentuk Soal : a. PG : 40 butir
b. Uraian : 5 butir

No. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Materi Indikator Soal Bentuk Soal No. Soal
1.











































2.





































3.










































4.



































5.





















































6.




































7.



















































8.


































Membaca
11. Memahami berbagai ragam teks tulis dalam bentuk gagasan atau dialog sederhana baik fiksi maupun non fiksi melalui kegiatan membaca, menganalisis dan menemukan pokok pikiran tentang
العنوان
































Menulis
13. Mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman dan informasi baik fiksi dan atau nonfiksi melalui kegiatan menulis tentang بيتى





























Membaca
11. Memahami berbagai ragam teks tulis dalam bentuk gagasan atau dialog sederhana baik fiksi maupun non fiksi melalui kegiatan membaca, menganalisis dan menemukan pokok pikiran tentang
العنوان































Menulis
13. Mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman dan informasi baik fiksi dan atau nonfiksi melalui kegiatan menulis tentang بيتى


























Membaca
12. Memahami berbagai ragam teks tulis dalam bentuk gagasan atau dialog sederhana baik fiksi maupun non fiksi melalui kegiatan membaca, menganalisis dan menemukan pokok pikiran tentang
أسرتي











































Menulis
14. Mengungkapkan fikiran, gagasan, perasaan, pengalaman dan informasi baik fiksi dan atau nonfiksi melalui kegiatan menulis tentang
أسرتي




























Membaca
12. Memahami berbagai ragam teks tulis dalam bentuk gagasan atau dialog sederhana baik fiksi maupun non fiksi melalui kegiatan membaca, menganalisis dan menemukan pokok pikiran tentang
أسرتي








































Menulis
14. Mengungkapkan fikiran, gagasan, perasaan, pengalaman dan informasi baik fiksi dan atau nonfiksi melalui kegiatan menulis tentang
أسرتي 11.1 Membaca nyaring, melafalkan huruf Hijaiyah, kata, frase, kalimat sederhana dengan ucapan, tekanan dan intonasi yang berterima tentang العنوان dengan menerapkan hitungan 1-100

11.2 Mengidentifikasi kata, frase,atau kalimat dalam wacana tertulis sederhana meliputi bilangan 1-100






11.3. Menemukan informasi dari wacana tulis sederhana tentang sebuah lokasi/alamat














13.1. Menulis dan melengkapi hurup hijaiyyah, kata, frase, dan kalimat tentang
بيتى dengan tanda baca yang tepat.

13.2. Menulis paragraph sederhana tentang بيتى dengan menggunakan kalimat berstruktur خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت







13.3. Menulis tentang بيتى dengan menggunakan media gambar/alat peraga gambar/foto yang dilihat dengan menggunakan kalimat berstruktur خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت


11.1 Membaca nyaring, melafalkan huruf Hijaiyah, kata, frase, kalimat sederhana dengan ucapan, tekanan dan intonasi yang berterima tentang العنوان dengan menerapkan hitungan 1-100
11.2 Mengidentifikasi kata, frase,atau kalimat dalam wacana tertulis sederhana meliputi bilangan 1-100







11.3. Menemukan informasi dari wacana tulis sederhana tentang sebuah lokasi/alamat













13.1. Menulis dan melengkapi hurup hijaiyyah, kata, frase, dan kalimat tentang
بيتى dengan tanda baca yang tepat.
13.2. Menulis paragraph sederhana tentang بيتى dengan menggunakan kalimat berstruktur خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت






13.3. Menulis tentang بيتى dengan menggunakan media gambar/alat peraga gambar/foto yang dilihat dengan menggunakan kalimat berstruktur خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت

12.1 Membaca nyaring, melafalkan huruf Hijaiyah, kata, frase, kalimat sederhana dengan ucapan, tekanan dan intonasi yang berterima tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

12.2 Mengidentifikasi kata, frase,atau kalimat sederhana dalam wacana tertulis sederhana tentang
أسرتي menggunakan kalimat berstruktur: Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

12.3. Menemukan informasi dari wacana tulis sederhana tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur: Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)









14.1 Menulis paragraph sederhana tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

14.2. Menulis cerita sederhana tentang أسرتي yang mencerminkan kecakapan menggunakan kata, frase dan kalimat dengan menerapkan kalimat berstruktur : Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)









12.1 Membaca nyaring, melafalkan huruf Hijaiyah, kata, frase, kalimat sederhana dengan ucapan, tekanan dan intonasi yang berterima tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

12.2 Mengidentifikasi kata, frase,atau kalimat sederhana dalam wacana tertulis sederhana tentang
أسرتي menggunakan kalimat berstruktur: Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

12.3. Menemukan informasi dari wacana tulis sederhana tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur: Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)












14.1 Menulis paragraph sederhana tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

14.2. Menulis cerita sederhana tentang أسرتي yang mencerminkan kecakapan menggunakan kata, frase dan kalimat dengan menerapkan kalimat berstruktur : Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)
11.1.1.Melafalkan kata,frase, kalimat dan struktur kalimat dasar yang dipelajari

11.1.2.Membaca materi Qira’at tentang
العنوان


11.2.1. Menjawab pertanyaan dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان


11.2.2 Menyimpulkan kata, frase, kalimat dan wacana tertulis sederhana tentang العنوان
11.3.1. Menyebutkan tema wacana tentang العنوان
11.3.2. Mengemukakan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان
11.3.3.Menyimpulkan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان

13.1.1 Menulis kalimat arab tentang
بيتى melalui imla’ manqul.

13.1.2 Menysun kata acak menjadi kalimat sempurna

13.2.1 Menggunakan mufrodat yang tepat dalam kalimat yang disediakan Tentang بيتى

13.2.2 Menyusun paragraf sederhana dengan ungkapan atau kalimat yang disediakan

13.3.1. Menyusun kalimat/kata yang terdapat dalam gambar dengan struktur
خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت






11.1.1.Melafalkan kata,frase, kalimat dan struktur kalimat dasar yang dipelajari

11.1.2.Membaca materi Qira’at tentang
العنوان

11.2.1. Menjawab pertanyaan dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان
11.2.2 Menyimpulkan kata, frase, kalimat dan wacana tertulis sederhana tentang العنوان

11.3.1. Menyebutkan tema wacana tentang العنوان
11.3.2. Mengemukakan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان
11.3.3.Menyimpulkan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان


13.1.1 Menulis kalimat arab tentang
بيتى melalui imla’ manqul.
13.1.2 Menysun kata acak menjadi kalimat sempurna
13.2.1 Menggunakan mufrodat yang tepat dalam kalimat yang disediakan tentang بيتى

13.2.2 Menyusun paragraf sederhana dengan ungkapan atau kalimat yang disediakan

13.3.1. Menyusun kalimat/kata yang terdapat dalam gambar dengan struktur
خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت






12.1.1.Melafalkan kata,frase, kalimat dan struktur kalimat dasar yang dipelajari

12.1.2.Membaca materi Qira’at tentang
أسرتي






12.2.1. Menjawab pertanyaan dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.2.2 Menyimpulkan kata, frase, kalimat dan wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.3.1. Menyebutkan tema wacana tentang أسرتي
12.3.2 Mengemukakan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.3.3.Menyimpulkan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي


14.1.1 Menulis kalimat arab tentang
أسرتي melalui imla’ manqul.

14.1.2 Menysun kata acak menjadi kalimat sempurna


14.2.1 Menggunakan mufrodat yang tepat dalam kalimat yang disediakan tentang أسرتي


14.2.2 Menyusun paragraf sederhana dengan ungkapan atau kalimat yang disediakan

14.2.3. Menyusun kalimat/kata dengan struktur
: Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)


12.1.2.Membaca materi Qira’at tentang
أسرتي



12.1.2.Membaca materi Qira’at tentang
أسرتي





12.2.1. Menjawab pertanyaan dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.2.2 Menyimpulkan kata, frase, kalimat dan wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.3.1. Menyebutkan tema wacana tentang أسرتي

12.3.2 Mengemukakan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.3.3.Menyimpulkan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي


14.1.1 Menulis kalimat arab tentang
أسرتي melalui imla’ manqul.


14.1.2 Menysun kata acak menjadi kalimat sempurna

14.2.1 Menggunakan mufrodat yang tepat dalam kalimat yang disediakan tentang أسرتي

14.2.2 Menyusun paragraf sederhana dengan ungkapan atau kalimat yang disediakan

14.2.3. Menyusun kalimat/kata dengan struktur
Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad) Qira’ah dengan mufradat tentang العنوان (نحن جيران) dengan menggunakan struktur kalimat tentang الارقام والاعداد (angka, nomor dan jumlah).


































Insya’ muwajjah dengan mufradat dan struktur kalimat yang dipelajar



































Qira’ah dengan mufradat tentang بيتى(بيت عمي)
dengan menggunakan struktur kalimat خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت



































Insya’ muwajjah dengan mufradat dan struktur kalimat yang dipelajar































Qira’ah dengan mufradat tentang افراد لأسرة (حديقة البيت) dengan menggunakan struktur kalimat Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)












































Insya’ muwajjah dengan mufradat dan struktur kalimat yang dipelajar

































Qira’ah dengan mufradat tentang اعمات لأسرة (أسرتي) dengan menggunakan struktur kalimat Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)










































Insya’ muwajjah dengan mufradat dan struktur kalimat yang dipelajar












- Memilih angka/nomor dengan benar untuk menyempurnakan susunan kalimat yang disajikan.

- Disediakam wacana sederhana,sisawa dapat menjawab pertanyaan tentang isis kandungan wacana tersebut.
- Memilih terjemahan kalimt berbahasa Indonesia dengan benar dari susunan kalimt bahasa arab yang disajikan.




- Disediakan sebuah bacaan, siswa dapat memilih tema yang tepat berdasarkan bacan tersebut.
- Memilih isi kandungan bacaan dengan benar dari wacana sederhana yang disajikan.





- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat memilih makna tersirat dari wacana tersebut.





- Disediakan beberapa buah kalimat, siswa dapat memilih kalimat yang benar tentang خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت.


- Memilih susunan kalimat dengan benar dari beberapa kata acak yang disajikan.


- Memilih mufradat dengan benar untuk menyempurnakan kalimat sederhana yang disajikan.




- Disediakan beberapa buah kalimat, siswa dapat menyusunnya menjadi paragraf.





- Disediakan beberapa gambar, siswa dapat memilih susunan kalimat yang benar berdasarkan struktur خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت























- Memilih kata yang tepat untuk menyempurnakan kalimat yang disajikan.
- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat menjawab pertanyaan tentang isi kandungan wacana tersebut.

- Memilih terjemahan kalimat berbahasa arab dengan benar dari susunan kalimat bahasa indonesia yang disajikan.




- Memilih isi kandungan qiraat dengan benar dari wacana sederhana yang disajikan.


- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat memilih jawaban yang tepat berdasarkan wacana tersebut.



- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat memilih makna tersirat dari wacana tersebut.







- Disediakan pertanyaan dalam hiwar (percakapan), siswa dapat memilih jawaban yang tepat.

- Menyusun kalimat yang benar dari beberapa kata acak yang disajikan.

- Memilih mufradat yang tepat untuk menyempurnakan sebuah kalimat yang disajikan.





- Disediakan beberapa kalimat, siswa dapat menyusun menjadi paragraf.





- Disediakan sebuah gambar, siswa dapat memilih kata yang tepat sesuai dengan gambar.


























- Memilih jawaban yang benar dari wacna sederhana yang disajikan.

- Disediakan sebuah susunan keluarga, siswa dapat menjawab pertanyan yang tepat sesuai susunan keluarga tersebut.


- Memlih terjemahan kata berbahasa arab dengan benar dari kalimat bahasa indonesia yang disajikan.





- Memilih isi kandungan qiraat yang benar dari wacana sederhana yang disajikan.

- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat memilih jawaban yang tepat berdasarkan wacana tersebut.






- Disajikan wacana sederhana, siswa dapat memilih makna yang tersirat dari wacana tersebut.






- Membuat kalimat dari kata yang disajikan.

- Disediakan beberapa kalimat, siswa dapat menunjukan kalimat yang benar susunannya dari : Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad
- Memilih susunan kalimat yang benar dari beberapa kata acak yang disajikan.



- Memilih pertanyaan yang benar dari jawaban yang disajiakan dalam sebuah percakapan (Hiwar).






- Disediakan beberapa kalimat, siswa dapat memelih susunan paragraf.





- Disediakan sebuah contoh kalimat, siswa dapat memilih susunan kalimat yang benar sesuai dengan contoh tentang : Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad




















- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat memilih jawaban yang tepat tentang isi kandungan wacana tersebut.





- Memilih mufradat dengan benar untuk melengkapi sebuah wacana sederhana yang disajikan.




- Memilih isi kandungan qiraat yang benar dari wacana sederhana yang disajikan.



- Memilih jawaban dengan benar sesuai pertanyanyang terdapat pada gambar yang disajikan.





- Memilih bacaan dengan benar dari beberapa wacana sederhana yang disajikan.








- Memilih kalimat yang benar sesuai dengan struktur kaliamt : Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)
- Memilih jawaban yang benar sesuai dengan pertanyaan yang disajikan.

- Memilih susunan kalimat yang benar dari beberapa kata acak yang disajikan.


- Disediakan kalimat sederhana, siswa dapat menerjemahkan kalimat tersebut dengan benar.





- Disediakan beberapa kalimat, siswa dapat menyusun menjadi sebuah paragraf.





- Disediakan sebuah contoh, siswa dapat memilih susunan kalimat yang benar sesuai dengan contoh.

















PG



Uraian


PG






PG


PG






PG






PG





PG



PG






PG






PG

























PG

PG



PG






PG



PG





PG








PG



Uraian


PG







PG






PG




























PG


Uraian




PG







PG


PG








PG








Uraian

PG



PG




PG








PG






PG
























PG







PG






PG




PG







PG









PG


PG


PG




Uraian






PG






PG













1



41


2






3


4






5






6





7



8






9






10

























11

12



13






14



15





16








17



42


18







19






20




























21


43




22







23


24








25








44

26



27




28








29






30
























31







32






33




34







35









36


37


38




45






39






40
KISI-KISI ULANGAN KENAIKAN KELAS MADRASAH TSANAWIYAH

Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Kelas/Semester : VII / 2
Alokasi WAktu : 120 Menit
Jumlah Soal : 45
Bentuk Soal : a. PG : 40 butir
b. Uraian : 5 butir

No. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Materi Indikator Soal Bentuk Soal No. Soal
1.











































2.





































3.










































4.



































5.





















































6.




































7.



















































8.


































Membaca
11. Memahami berbagai ragam teks tulis dalam bentuk gagasan atau dialog sederhana baik fiksi maupun non fiksi melalui kegiatan membaca, menganalisis dan menemukan pokok pikiran tentang
العنوان
































Menulis
13. Mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman dan informasi baik fiksi dan atau nonfiksi melalui kegiatan menulis tentang بيتى





























Membaca
11. Memahami berbagai ragam teks tulis dalam bentuk gagasan atau dialog sederhana baik fiksi maupun non fiksi melalui kegiatan membaca, menganalisis dan menemukan pokok pikiran tentang
العنوان































Menulis
13. Mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman dan informasi baik fiksi dan atau nonfiksi melalui kegiatan menulis tentang بيتى


























Membaca
12. Memahami berbagai ragam teks tulis dalam bentuk gagasan atau dialog sederhana baik fiksi maupun non fiksi melalui kegiatan membaca, menganalisis dan menemukan pokok pikiran tentang
أسرتي











































Menulis
14. Mengungkapkan fikiran, gagasan, perasaan, pengalaman dan informasi baik fiksi dan atau nonfiksi melalui kegiatan menulis tentang
أسرتي




























Membaca
12. Memahami berbagai ragam teks tulis dalam bentuk gagasan atau dialog sederhana baik fiksi maupun non fiksi melalui kegiatan membaca, menganalisis dan menemukan pokok pikiran tentang
أسرتي








































Menulis
14. Mengungkapkan fikiran, gagasan, perasaan, pengalaman dan informasi baik fiksi dan atau nonfiksi melalui kegiatan menulis tentang
أسرتي 11.1 Membaca nyaring, melafalkan huruf Hijaiyah, kata, frase, kalimat sederhana dengan ucapan, tekanan dan intonasi yang berterima tentang العنوان dengan menerapkan hitungan 1-100

11.2 Mengidentifikasi kata, frase,atau kalimat dalam wacana tertulis sederhana meliputi bilangan 1-100






11.3. Menemukan informasi dari wacana tulis sederhana tentang sebuah lokasi/alamat














13.1. Menulis dan melengkapi hurup hijaiyyah, kata, frase, dan kalimat tentang
بيتى dengan tanda baca yang tepat.

13.2. Menulis paragraph sederhana tentang بيتى dengan menggunakan kalimat berstruktur خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت







13.3. Menulis tentang بيتى dengan menggunakan media gambar/alat peraga gambar/foto yang dilihat dengan menggunakan kalimat berstruktur خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت


11.1 Membaca nyaring, melafalkan huruf Hijaiyah, kata, frase, kalimat sederhana dengan ucapan, tekanan dan intonasi yang berterima tentang العنوان dengan menerapkan hitungan 1-100
11.2 Mengidentifikasi kata, frase,atau kalimat dalam wacana tertulis sederhana meliputi bilangan 1-100







11.3. Menemukan informasi dari wacana tulis sederhana tentang sebuah lokasi/alamat













13.1. Menulis dan melengkapi hurup hijaiyyah, kata, frase, dan kalimat tentang
بيتى dengan tanda baca yang tepat.
13.2. Menulis paragraph sederhana tentang بيتى dengan menggunakan kalimat berstruktur خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت






13.3. Menulis tentang بيتى dengan menggunakan media gambar/alat peraga gambar/foto yang dilihat dengan menggunakan kalimat berstruktur خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت

12.1 Membaca nyaring, melafalkan huruf Hijaiyah, kata, frase, kalimat sederhana dengan ucapan, tekanan dan intonasi yang berterima tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

12.2 Mengidentifikasi kata, frase,atau kalimat sederhana dalam wacana tertulis sederhana tentang
أسرتي menggunakan kalimat berstruktur: Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

12.3. Menemukan informasi dari wacana tulis sederhana tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur: Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)









14.1 Menulis paragraph sederhana tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

14.2. Menulis cerita sederhana tentang أسرتي yang mencerminkan kecakapan menggunakan kata, frase dan kalimat dengan menerapkan kalimat berstruktur : Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)









12.1 Membaca nyaring, melafalkan huruf Hijaiyah, kata, frase, kalimat sederhana dengan ucapan, tekanan dan intonasi yang berterima tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

12.2 Mengidentifikasi kata, frase,atau kalimat sederhana dalam wacana tertulis sederhana tentang
أسرتي menggunakan kalimat berstruktur: Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

12.3. Menemukan informasi dari wacana tulis sederhana tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur: Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)












14.1 Menulis paragraph sederhana tentang أسرتي dengan menerapkan kalimat berstruktur Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)

14.2. Menulis cerita sederhana tentang أسرتي yang mencerminkan kecakapan menggunakan kata, frase dan kalimat dengan menerapkan kalimat berstruktur : Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)
11.1.1.Melafalkan kata,frase, kalimat dan struktur kalimat dasar yang dipelajari

11.1.2.Membaca materi Qira’at tentang
العنوان


11.2.1. Menjawab pertanyaan dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان


11.2.2 Menyimpulkan kata, frase, kalimat dan wacana tertulis sederhana tentang العنوان
11.3.1. Menyebutkan tema wacana tentang العنوان
11.3.2. Mengemukakan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان
11.3.3.Menyimpulkan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان

13.1.1 Menulis kalimat arab tentang
بيتى melalui imla’ manqul.

13.1.2 Menysun kata acak menjadi kalimat sempurna

13.2.1 Menggunakan mufrodat yang tepat dalam kalimat yang disediakan Tentang بيتى

13.2.2 Menyusun paragraf sederhana dengan ungkapan atau kalimat yang disediakan

13.3.1. Menyusun kalimat/kata yang terdapat dalam gambar dengan struktur
خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت






11.1.1.Melafalkan kata,frase, kalimat dan struktur kalimat dasar yang dipelajari

11.1.2.Membaca materi Qira’at tentang
العنوان

11.2.1. Menjawab pertanyaan dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان
11.2.2 Menyimpulkan kata, frase, kalimat dan wacana tertulis sederhana tentang العنوان

11.3.1. Menyebutkan tema wacana tentang العنوان
11.3.2. Mengemukakan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان
11.3.3.Menyimpulkan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang العنوان


13.1.1 Menulis kalimat arab tentang
بيتى melalui imla’ manqul.
13.1.2 Menysun kata acak menjadi kalimat sempurna
13.2.1 Menggunakan mufrodat yang tepat dalam kalimat yang disediakan tentang بيتى

13.2.2 Menyusun paragraf sederhana dengan ungkapan atau kalimat yang disediakan

13.3.1. Menyusun kalimat/kata yang terdapat dalam gambar dengan struktur
خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت






12.1.1.Melafalkan kata,frase, kalimat dan struktur kalimat dasar yang dipelajari

12.1.2.Membaca materi Qira’at tentang
أسرتي






12.2.1. Menjawab pertanyaan dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.2.2 Menyimpulkan kata, frase, kalimat dan wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.3.1. Menyebutkan tema wacana tentang أسرتي
12.3.2 Mengemukakan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.3.3.Menyimpulkan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي


14.1.1 Menulis kalimat arab tentang
أسرتي melalui imla’ manqul.

14.1.2 Menysun kata acak menjadi kalimat sempurna


14.2.1 Menggunakan mufrodat yang tepat dalam kalimat yang disediakan tentang أسرتي


14.2.2 Menyusun paragraf sederhana dengan ungkapan atau kalimat yang disediakan

14.2.3. Menyusun kalimat/kata dengan struktur
: Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)


12.1.2.Membaca materi Qira’at tentang
أسرتي



12.1.2.Membaca materi Qira’at tentang
أسرتي





12.2.1. Menjawab pertanyaan dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.2.2 Menyimpulkan kata, frase, kalimat dan wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.3.1. Menyebutkan tema wacana tentang أسرتي

12.3.2 Mengemukakan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي

12.3.3.Menyimpulkan makna, gagasan atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang أسرتي


14.1.1 Menulis kalimat arab tentang
أسرتي melalui imla’ manqul.


14.1.2 Menysun kata acak menjadi kalimat sempurna

14.2.1 Menggunakan mufrodat yang tepat dalam kalimat yang disediakan tentang أسرتي

14.2.2 Menyusun paragraf sederhana dengan ungkapan atau kalimat yang disediakan

14.2.3. Menyusun kalimat/kata dengan struktur
Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad) Qira’ah dengan mufradat tentang العنوان (نحن جيران) dengan menggunakan struktur kalimat tentang الارقام والاعداد (angka, nomor dan jumlah).


































Insya’ muwajjah dengan mufradat dan struktur kalimat yang dipelajar



































Qira’ah dengan mufradat tentang بيتى(بيت عمي)
dengan menggunakan struktur kalimat خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت



































Insya’ muwajjah dengan mufradat dan struktur kalimat yang dipelajar































Qira’ah dengan mufradat tentang افراد لأسرة (حديقة البيت) dengan menggunakan struktur kalimat Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)












































Insya’ muwajjah dengan mufradat dan struktur kalimat yang dipelajar

































Qira’ah dengan mufradat tentang اعمات لأسرة (أسرتي) dengan menggunakan struktur kalimat Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)










































Insya’ muwajjah dengan mufradat dan struktur kalimat yang dipelajar












- Memilih angka/nomor dengan benar untuk menyempurnakan susunan kalimat yang disajikan.

- Disediakam wacana sederhana,sisawa dapat menjawab pertanyaan tentang isis kandungan wacana tersebut.
- Memilih terjemahan kalimt berbahasa Indonesia dengan benar dari susunan kalimt bahasa arab yang disajikan.




- Disediakan sebuah bacaan, siswa dapat memilih tema yang tepat berdasarkan bacan tersebut.
- Memilih isi kandungan bacaan dengan benar dari wacana sederhana yang disajikan.





- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat memilih makna tersirat dari wacana tersebut.





- Disediakan beberapa buah kalimat, siswa dapat memilih kalimat yang benar tentang خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت.


- Memilih susunan kalimat dengan benar dari beberapa kata acak yang disajikan.


- Memilih mufradat dengan benar untuk menyempurnakan kalimat sederhana yang disajikan.




- Disediakan beberapa buah kalimat, siswa dapat menyusunnya menjadi paragraf.





- Disediakan beberapa gambar, siswa dapat memilih susunan kalimat yang benar berdasarkan struktur خبر مقدم+مبتدأ مؤخر+ نعت























- Memilih kata yang tepat untuk menyempurnakan kalimat yang disajikan.
- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat menjawab pertanyaan tentang isi kandungan wacana tersebut.

- Memilih terjemahan kalimat berbahasa arab dengan benar dari susunan kalimat bahasa indonesia yang disajikan.




- Memilih isi kandungan qiraat dengan benar dari wacana sederhana yang disajikan.


- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat memilih jawaban yang tepat berdasarkan wacana tersebut.



- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat memilih makna tersirat dari wacana tersebut.







- Disediakan pertanyaan dalam hiwar (percakapan), siswa dapat memilih jawaban yang tepat.

- Menyusun kalimat yang benar dari beberapa kata acak yang disajikan.

- Memilih mufradat yang tepat untuk menyempurnakan sebuah kalimat yang disajikan.





- Disediakan beberapa kalimat, siswa dapat menyusun menjadi paragraf.





- Disediakan sebuah gambar, siswa dapat memilih kata yang tepat sesuai dengan gambar.


























- Memilih jawaban yang benar dari wacna sederhana yang disajikan.

- Disediakan sebuah susunan keluarga, siswa dapat menjawab pertanyan yang tepat sesuai susunan keluarga tersebut.


- Memlih terjemahan kata berbahasa arab dengan benar dari kalimat bahasa indonesia yang disajikan.





- Memilih isi kandungan qiraat yang benar dari wacana sederhana yang disajikan.

- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat memilih jawaban yang tepat berdasarkan wacana tersebut.






- Disajikan wacana sederhana, siswa dapat memilih makna yang tersirat dari wacana tersebut.






- Membuat kalimat dari kata yang disajikan.

- Disediakan beberapa kalimat, siswa dapat menunjukan kalimat yang benar susunannya dari : Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad
- Memilih susunan kalimat yang benar dari beberapa kata acak yang disajikan.



- Memilih pertanyaan yang benar dari jawaban yang disajiakan dalam sebuah percakapan (Hiwar).






- Disediakan beberapa kalimat, siswa dapat memelih susunan paragraf.





- Disediakan sebuah contoh kalimat, siswa dapat memilih susunan kalimat yang benar sesuai dengan contoh tentang : Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad




















- Disediakan wacana sederhana, siswa dapat memilih jawaban yang tepat tentang isi kandungan wacana tersebut.





- Memilih mufradat dengan benar untuk melengkapi sebuah wacana sederhana yang disajikan.




- Memilih isi kandungan qiraat yang benar dari wacana sederhana yang disajikan.



- Memilih jawaban dengan benar sesuai pertanyanyang terdapat pada gambar yang disajikan.





- Memilih bacaan dengan benar dari beberapa wacana sederhana yang disajikan.








- Memilih kalimat yang benar sesuai dengan struktur kaliamt : Mubtada dan Khabar (berupa kata kerja/fiil mudhari mufrad)
- Memilih jawaban yang benar sesuai dengan pertanyaan yang disajikan.

- Memilih susunan kalimat yang benar dari beberapa kata acak yang disajikan.


- Disediakan kalimat sederhana, siswa dapat menerjemahkan kalimat tersebut dengan benar.





- Disediakan beberapa kalimat, siswa dapat menyusun menjadi sebuah paragraf.





- Disediakan sebuah contoh, siswa dapat memilih susunan kalimat yang benar sesuai dengan contoh.

















PG



Uraian


PG






PG


PG






PG






PG





PG



PG






PG






PG

























PG

PG



PG






PG



PG





PG








PG



Uraian


PG







PG






PG




























PG


Uraian




PG







PG


PG








PG








Uraian

PG



PG




PG








PG






PG
























PG







PG






PG




PG







PG









PG


PG


PG




Uraian






PG






PG













1



41


2






3


4






5






6





7



8






9






10

























11

12



13






14



15





16








17



42


18







19






20




























21


43




22







23


24








25








44

26



27




28








29






30
























31







32






33




34







35









36


37


38




45






39






40

Jumat, 22 Oktober 2010

Problem pendidikan Islam

Selain problem keilmuan yang berasal dari masuknya konsep-konsep, ide-ide dan paham-paham asing, secara internal ummat Islam juga memiliki problem yang tidak kalah seriusnya. Problem yang pertama adalah lemahnya tradisi pengkajian ilmu-ilmu pengetahuan doktrinal maupun pengetahuan spekulatif. Kelemahan ini mengakibatkan miskinnya konsep-konsep baru yang rasional sehingga isu-isu yang dibawa oleh kelompok modernis ataupun rasionalis yang sebenarnya tidak berasal dari tradisi intelektual Islam dianggap sebagai sesuatu yang baru dan dianggap menyegarkan. Padahal ia lebih merupakan adopsi dari pandangan Barat ataupun Orientalis yang masih perlu dikritisi. Tapi lagi-lagi tradisi kritik (naqd) belum menjadi mekanisme intelektual yang mapan.

Masalah ini menjadi lebih serius lagi jika dikaitkan dengan pembentukan disiplin ilmu baru dalam Islam. Tradisi mengadakan kajian dalam satu bidang pemikiran Islam belum bisa tumbuh sebagaimana kajian dalam bidang ilmu-ilmu sekuler, karena kekurangan sumber daya manusia ataupun belum wujudnya komunitas untuk itu. Ini berarti keahlian cendekiawan kita masih belum terklassifikasikan dalam disiplin ilmu tersendiri. Satu konsep dalam satu bidang kajian masih bercampur campur dengan konsep-konsep dalam bidang lain dan bahkan konsep-konsep yang diambil dari konsep asing masih belum sempurna diasimilasikan kedalam pandangan hidup Islam. Nampaknya semua cendekiawan dapat berbicara tentang semua masalah karena dianggap mengerti semua masalah, sehingga kita sulit menemukan seorang cendekiawan yang menekuni satu bidang khusus dan menghasilkan konsep-konsep Baru. Dalam perkembangan selanjutnya ketika masyarakat ilmiah semakin dewasa dalam memahami Islam spesialisasi dalam suatu bidang ilmu agama menjadi tuntutan masyarakat yang tidak dapat dihindarkan dan dari situ akan muncul disiplin ilmu Baru dalam Islam yang lahir dari pandangan hidup Islam.

Oleh sebab itu, klassifikasi ilmu yang dicanangkan al-Ghazzali yang berupa farÌu ‘ayn dan farÌu kifaiyah dapat dikembangkan dalam konteks kekinian. Ilmu farÌu ‘ain dapat diartikan sebagai compulsory subject bagi mahasiswa atau pelajar Muslim yang berupa ilmu-ilmu agama yang asasi tergantung tingkat pendidikannya. Tingkat universitas misalnya Tafsir, hadith, syari’ah, teologi (ilmu Kalam), metafisika dapat dimasukkan kedalam ilmu farÌu ‘ain. Ilmu FarÌu KifÉyah adalah ilmu yang tidak mesti dituntut oleh semua Muslim, termasuk di dalamnya ilmu manusia, ilmu alam, ilmu terapan, perbandingan agama, kebudayaan Islam dan Barat, ilmu bahasa dan sastra, sejarah Islam dsb. Pembagian ilmu faÌu ‘ayn dan farÌu kifayah ini tidak perlu difahami secara dikhotomis, karena ia hanyalah pembagian hirarki ilmu pengetahuan berdasarkan kepada tingkat kebenarannya. Ia harus dilihat dalam perspektif kesatuan integral atau tawhidi, di mana yang pertama merupakan asas dan rujukan bagi yang kedua.

Tapi masalahnya dalam kurikulum pendidikan Islam, pengajaran ilmu-ilmu farÌu ‘ayn yang berhubungan dengan keimanan dan kewajiban-kewajiban individu berhenti pada jenjang pendidikan rendah atau menengah dan tidak dilanjutkan pada tingkat universitas. Konsep hirarki ilmu pengetahuan ilmu farÌu ‘ayn dan farÌu kifayah itu belum banyak dikenal di kalangan lembaga pendidikan Islam, jikapun dikenal ia masih banyak disalahpahami atau masih belum dikonseptualisasikan serta dipraktekkan secara akademis. Pembagian ini perlu ditekankan pada jenjang perguruan tinggi. Sebab masalahnya berkaitan dengan konsep ilmu (epistemologi).

Untuk mengidentifikasi problem ilmu pengetahuan pada lembaga pendidikan Islam, khususnya di Indonesia, ada baiknya dibahas situasi pada 3 institusi pendidikan Islam, yaitu pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam.

Sistem pendidikan pesantren
Pesantren di Indonesia terdiri dari dua sistem yaitu tradisional dan modern. Keduanya mempunyai missi tafaqquh fi al-din, artinya lembaga pendidikan yang bertujuan khusus mempelajari agama. Pada pesantren tradisional missi ini dijabarkan secara kurikuler dalam bentuk kajian kitab kuning yang terbatas pada Fiqih, Aqidah, Tata Bahasa Arab, Hadith, Tasawwuf dan Tarekat, Akhlak, dan Sirah. Sementara itu bagi pesantren modern missi ini diwujudkan dalam bentuk kurikulum yang diorganisir dengan menyederhanakan kandungan kitab kuning sehingga bersifat madrasi dan melengkapinya dengan mata pelajaran ilmu-ilmu yang biasa disebut “ilmu pengetahuan umum”. Pesantren tradisional yang mengkhususkan diri pada kajian ilmu farÌu ‘ayn terpaksan mengorbankan ilmu farÌu kifayah dalam pengertian ‘ulum al-naqliyyah. Bahkan kajian ilmu fardhu ‘ayn dengan kekayaan kitabnya itu belum dapat memainkan perannya yang berarti terhadap kajian disiplin ilmu fardhu kifayah di lembaga pendidikan Islam lainnya atau pendidikan sekuler. Selain itu karena kelemahan metodologis pesantren tradisional takhashush pada satu bidang ilmu tertentu terlalu kaku, sehingga menyulitkan kerja-kerja integrasi ilmu fardu ayn dan farÌu kifayah. Di pesantren ini sangat sedikit sekali, atau bahkan mungkin tidak ada, kajian ‘ulum al-’aqliyyah seperti logika, filsafat, metafisika, kalam, kedokteran dan lain-lain. Ringkasnya, secara umum pembagian hirarki ilmu farÌu ‘ayn dan farÌu kifayah tidak nampak jelas, bahkan ilmu farÌu kifayah yang melibatkan kajian tentang alam dan hakekat manusia hampir tidak mendapat tempat dalam kurikulum pesantren tradisional itu sendiri.

Pesantren modern yang memahami tafaqquh fi al-din dalam bentuk gabungan ilmu farÌu ‘ayn dan farÌu kifayah memang berhasil memberikan wawasan yang lebih luas dibanding pesantren tradisional, namun sesungguhnya gabungan itu bukan merupakan hasil integrasi ‘ulum al-naqliyyah dan ‘ulum al-’aqilyyah yang didesain secara konseptual. Mata pelajaran Fisika misalnya masih belum dikaitkan dengan mata pelajaran Usuluddin, mata pelajaran Sejarah Dunia tidak mengandung Sejarah Islam atau peranan ummat Islam dalam sejarah dunia dan sebagainya. Jadi kurikulum pesantren modern bukan merupakan hasil dari konsep ilmu yang integral, tapi lebih merupakan kajian serempak ilmu fardhu ‘ayn dan fardhu kifayah. Jadi, masih terbuka kemungkinan akan adanya pandangan dikhotomis para santrinya. Meskipun begitu sebenarnya dengan sistem madrasi-nya yang mengharuskan pengajaran banyak materi mabadi’ al-’ulum (ilmu-ilmu kunci) pesantren modern berpotensi untuk memproduk generalis dan lebih kondusif untuk menanamkan pandangan hidup Islam dibanding pesantren tradisional. Kedua sistem pendidikan pesantren ini sebenarnya sama-sama memiliki potensi untuk diarahkan mengkaji ilmu pengetahuan Islam secara integral. Namun hal itu tergantung kepada kapasitas kyai, ulama dan asatidzah-nya.

Sistem Pendidikan Madrasah
Sistem pendidikan madrasah yang dikembangkan pemerintah sebenarnya diharapkan mampu menciptakan pelajar-pelajar yang mengetahui dan menguasai ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum sekaligus. Sistem pendidikan madrasah mulanya didesain sebagai konvergensi kurikulum pendidikan pondok dan sekolah umum yang sedikit banyak serupa dengan kurikulum pesantren modern. Namun pengembangan program-program khusus atau jurusan tertentu yang memisahkan ilmu farÌu ‘ayn dan ilmu farÌu kifayah dengan tanpa konsep yang jelas, peran madrasah dalam mengeliminir dikhotomi ilmu dalam pendidikan Islam semakin tidak nampak. Di sisi lain kegagalan sistem madrasah juga dapat dilihat dari fakta dimana prestasi kebanyakan murid-murid madrasah dalam bidang “ilmu-ilmu agama” masih tertinggal jauh dari prestasi santri-santri pondok pesantren dan dalam bidang “ilmu-ilmu umum” pula mereka tidak bisa mengimbangi prestasi murid-murid sekolah umum. Selain itu, sejauh ini nampaknya ilmu pengetahuan umum (sekuler) tidak diajarkan dalam perspektif ilmu agama.

Sistem Perguruan tinggi Islam
Terlepas dari peran kemasyarakat yang dimainkan oleh sistem pesantren, kekurangan yang paling menonjol adalah ketidakmampuan keduanya dalam mengembangkan tingkat tingginya atau perguruan tingginya. Yakni perguruan tinggi yang khas dibangun sebagai kelanjutan tradisi intelektual Islam atau sekurang-kurangnya dibangun berdasarkan pada tradisi keilmuan di pesantren. Padahal dulu hampir semua pesantren memiliki program tingkat tingginya, yang di pesantren tradisional disebut khawash dan di pesantren modern disebut pesantren tinggi, meskipun tidak dilembagakan secara formal. Program itu kini sudah sangat jarang, kalaupun tidak boleh dikatakan tidak ada. Kini di beberapa pesantren program itu telah diganti dengan sekolah tinggi atau institut yang mengikuti kurikulum Departemen Agama yang sebenarnya bukan sepenuhnya merupakan kelanjutan dari kurikulum pesantren. Ada pula pesantren yang mendirikan universitas dengan fakultas yang mengikuti kurikulum Departmen Pendidikan dan Kebudayaan. Isi dan produknya tentu yang tidak jauh beda dengan universitas umum. Gagasan dan usaha untuk menghidupkan program Ma’had ‘aly sebagai lanjutan pendidikan pesantren ternyata terhalang oleh kemiskinan konsep dan sumber daya manusia.

Jenjang pendidikan tinggi dalam bentuk institut atau universitas yang merupakan lanjutan bagi kajian ilmu-ilmu keislaman di pesantren nampaknya belum terwujud. Akibatnya khazanah ilmu pengetahuan Islam tidak dikaji secara intensif, apalagi dikaji dan difahami dalam konteks kekinian. Di Universitas-universitas Islam fakultas-fakultas agama (fardhu ‘ayn) tidak berperan menjadi rujukan atau menjadi asas bagi fakultas-fakultas umum (fardhu kifayah), ia justru dimarjinalkan.

Problem pendidikan Islam
Selain problem keilmuan yang berasal dari masuknya konsep-konsep, ide-ide dan paham-paham asing, secara internal ummat Islam juga memiliki problem yang tidak kalah seriusnya. Problem yang pertama adalah lemahnya tradisi pengkajian ilmu-ilmu pengetahuan doktrinal maupun pengetahuan spekulatif. Kelemahan ini mengakibatkan miskinnya konsep-konsep baru yang rasional sehingga isu-isu yang dibawa oleh kelompok modernis ataupun rasionalis yang sebenarnya tidak berasal dari tradisi intelektual Islam dianggap sebagai sesuatu yang baru dan dianggap menyegarkan. Padahal ia lebih merupakan adopsi dari pandangan Barat ataupun Orientalis yang masih perlu dikritisi. Tapi lagi-lagi tradisi kritik (naqd) belum menjadi mekanisme intelektual yang mapan.

Masalah ini menjadi lebih serius lagi jika dikaitkan dengan pembentukan disiplin ilmu baru dalam Islam. Tradisi mengadakan kajian dalam satu bidang pemikiran Islam belum bisa tumbuh sebagaimana kajian dalam bidang ilmu-ilmu sekuler, karena kekurangan sumber daya manusia ataupun belum wujudnya komunitas untuk itu. Ini berarti keahlian cendekiawan kita masih belum terklassifikasikan dalam disiplin ilmu tersendiri. Satu konsep dalam satu bidang kajian masih bercampur campur dengan konsep-konsep dalam bidang lain dan bahkan konsep-konsep yang diambil dari konsep asing masih belum sempurna diasimilasikan kedalam pandangan hidup Islam. Nampaknya semua cendekiawan dapat berbicara tentang semua masalah karena dianggap mengerti semua masalah, sehingga kita sulit menemukan seorang cendekiawan yang menekuni satu bidang khusus dan menghasilkan konsep-konsep Baru. Dalam perkembangan selanjutnya ketika masyarakat ilmiah semakin dewasa dalam memahami Islam spesialisasi dalam suatu bidang ilmu agama menjadi tuntutan masyarakat yang tidak dapat dihindarkan dan dari situ akan muncul disiplin ilmu Baru dalam Islam yang lahir dari pandangan hidup Islam.

Oleh sebab itu, klassifikasi ilmu yang dicanangkan al-Ghazzali yang berupa farÌu ‘ayn dan farÌu kifaiyah dapat dikembangkan dalam konteks kekinian. Ilmu farÌu ‘ain dapat diartikan sebagai compulsory subject bagi mahasiswa atau pelajar Muslim yang berupa ilmu-ilmu agama yang asasi tergantung tingkat pendidikannya. Tingkat universitas misalnya Tafsir, hadith, syari’ah, teologi (ilmu Kalam), metafisika dapat dimasukkan kedalam ilmu farÌu ‘ain. Ilmu FarÌu KifÉyah adalah ilmu yang tidak mesti dituntut oleh semua Muslim, termasuk di dalamnya ilmu manusia, ilmu alam, ilmu terapan, perbandingan agama, kebudayaan Islam dan Barat, ilmu bahasa dan sastra, sejarah Islam dsb. Pembagian ilmu faÌu ‘ayn dan farÌu kifayah ini tidak perlu difahami secara dikhotomis, karena ia hanyalah pembagian hirarki ilmu pengetahuan berdasarkan kepada tingkat kebenarannya. Ia harus dilihat dalam perspektif kesatuan integral atau tawhidi, di mana yang pertama merupakan asas dan rujukan bagi yang kedua.

Tapi masalahnya dalam kurikulum pendidikan Islam, pengajaran ilmu-ilmu farÌu ‘ayn yang berhubungan dengan keimanan dan kewajiban-kewajiban individu berhenti pada jenjang pendidikan rendah atau menengah dan tidak dilanjutkan pada tingkat universitas. Konsep hirarki ilmu pengetahuan ilmu farÌu ‘ayn dan farÌu kifayah itu belum banyak dikenal di kalangan lembaga pendidikan Islam, jikapun dikenal ia masih banyak disalahpahami atau masih belum dikonseptualisasikan serta dipraktekkan secara akademis. Pembagian ini perlu ditekankan pada jenjang perguruan tinggi. Sebab masalahnya berkaitan dengan konsep ilmu (epistemologi).

Untuk mengidentifikasi problem ilmu pengetahuan pada lembaga pendidikan Islam, khususnya di Indonesia, ada baiknya dibahas situasi pada 3 institusi pendidikan Islam, yaitu pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam.

Sistem pendidikan pesantren
Pesantren di Indonesia terdiri dari dua sistem yaitu tradisional dan modern. Keduanya mempunyai missi tafaqquh fi al-din, artinya lembaga pendidikan yang bertujuan khusus mempelajari agama. Pada pesantren tradisional missi ini dijabarkan secara kurikuler dalam bentuk kajian kitab kuning yang terbatas pada Fiqih, Aqidah, Tata Bahasa Arab, Hadith, Tasawwuf dan Tarekat, Akhlak, dan Sirah. Sementara itu bagi pesantren modern missi ini diwujudkan dalam bentuk kurikulum yang diorganisir dengan menyederhanakan kandungan kitab kuning sehingga bersifat madrasi dan melengkapinya dengan mata pelajaran ilmu-ilmu yang biasa disebut “ilmu pengetahuan umum”. Pesantren tradisional yang mengkhususkan diri pada kajian ilmu farÌu ‘ayn terpaksan mengorbankan ilmu farÌu kifayah dalam pengertian ‘ulum al-naqliyyah. Bahkan kajian ilmu fardhu ‘ayn dengan kekayaan kitabnya itu belum dapat memainkan perannya yang berarti terhadap kajian disiplin ilmu fardhu kifayah di lembaga pendidikan Islam lainnya atau pendidikan sekuler. Selain itu karena kelemahan metodologis pesantren tradisional takhashush pada satu bidang ilmu tertentu terlalu kaku, sehingga menyulitkan kerja-kerja integrasi ilmu fardu ayn dan farÌu kifayah. Di pesantren ini sangat sedikit sekali, atau bahkan mungkin tidak ada, kajian ‘ulum al-’aqliyyah seperti logika, filsafat, metafisika, kalam, kedokteran dan lain-lain. Ringkasnya, secara umum pembagian hirarki ilmu farÌu ‘ayn dan farÌu kifayah tidak nampak jelas, bahkan ilmu farÌu kifayah yang melibatkan kajian tentang alam dan hakekat manusia hampir tidak mendapat tempat dalam kurikulum pesantren tradisional itu sendiri.

Pesantren modern yang memahami tafaqquh fi al-din dalam bentuk gabungan ilmu farÌu ‘ayn dan farÌu kifayah memang berhasil memberikan wawasan yang lebih luas dibanding pesantren tradisional, namun sesungguhnya gabungan itu bukan merupakan hasil integrasi ‘ulum al-naqliyyah dan ‘ulum al-’aqilyyah yang didesain secara konseptual. Mata pelajaran Fisika misalnya masih belum dikaitkan dengan mata pelajaran Usuluddin, mata pelajaran Sejarah Dunia tidak mengandung Sejarah Islam atau peranan ummat Islam dalam sejarah dunia dan sebagainya. Jadi kurikulum pesantren modern bukan merupakan hasil dari konsep ilmu yang integral, tapi lebih merupakan kajian serempak ilmu fardhu ‘ayn dan fardhu kifayah. Jadi, masih terbuka kemungkinan akan adanya pandangan dikhotomis para santrinya. Meskipun begitu sebenarnya dengan sistem madrasi-nya yang mengharuskan pengajaran banyak materi mabadi’ al-’ulum (ilmu-ilmu kunci) pesantren modern berpotensi untuk memproduk generalis dan lebih kondusif untuk menanamkan pandangan hidup Islam dibanding pesantren tradisional. Kedua sistem pendidikan pesantren ini sebenarnya sama-sama memiliki potensi untuk diarahkan mengkaji ilmu pengetahuan Islam secara integral. Namun hal itu tergantung kepada kapasitas kyai, ulama dan asatidzah-nya.

Sistem Pendidikan Madrasah
Sistem pendidikan madrasah yang dikembangkan pemerintah sebenarnya diharapkan mampu menciptakan pelajar-pelajar yang mengetahui dan menguasai ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum sekaligus. Sistem pendidikan madrasah mulanya didesain sebagai konvergensi kurikulum pendidikan pondok dan sekolah umum yang sedikit banyak serupa dengan kurikulum pesantren modern. Namun pengembangan program-program khusus atau jurusan tertentu yang memisahkan ilmu farÌu ‘ayn dan ilmu farÌu kifayah dengan tanpa konsep yang jelas, peran madrasah dalam mengeliminir dikhotomi ilmu dalam pendidikan Islam semakin tidak nampak. Di sisi lain kegagalan sistem madrasah juga dapat dilihat dari fakta dimana prestasi kebanyakan murid-murid madrasah dalam bidang “ilmu-ilmu agama” masih tertinggal jauh dari prestasi santri-santri pondok pesantren dan dalam bidang “ilmu-ilmu umum” pula mereka tidak bisa mengimbangi prestasi murid-murid sekolah umum. Selain itu, sejauh ini nampaknya ilmu pengetahuan umum (sekuler) tidak diajarkan dalam perspektif ilmu agama.

Sistem Perguruan tinggi Islam
Terlepas dari peran kemasyarakat yang dimainkan oleh sistem pesantren, kekurangan yang paling menonjol adalah ketidakmampuan keduanya dalam mengembangkan tingkat tingginya atau perguruan tingginya. Yakni perguruan tinggi yang khas dibangun sebagai kelanjutan tradisi intelektual Islam atau sekurang-kurangnya dibangun berdasarkan pada tradisi keilmuan di pesantren. Padahal dulu hampir semua pesantren memiliki program tingkat tingginya, yang di pesantren tradisional disebut khawash dan di pesantren modern disebut pesantren tinggi, meskipun tidak dilembagakan secara formal. Program itu kini sudah sangat jarang, kalaupun tidak boleh dikatakan tidak ada. Kini di beberapa pesantren program itu telah diganti dengan sekolah tinggi atau institut yang mengikuti kurikulum Departemen Agama yang sebenarnya bukan sepenuhnya merupakan kelanjutan dari kurikulum pesantren. Ada pula pesantren yang mendirikan universitas dengan fakultas yang mengikuti kurikulum Departmen Pendidikan dan Kebudayaan. Isi dan produknya tentu yang tidak jauh beda dengan universitas umum. Gagasan dan usaha untuk menghidupkan program Ma’had ‘aly sebagai lanjutan pendidikan pesantren ternyata terhalang oleh kemiskinan konsep dan sumber daya manusia.

Jenjang pendidikan tinggi dalam bentuk institut atau universitas yang merupakan lanjutan bagi kajian ilmu-ilmu keislaman di pesantren nampaknya belum terwujud. Akibatnya khazanah ilmu pengetahuan Islam tidak dikaji secara intensif, apalagi dikaji dan difahami dalam konteks kekinian. Di Universitas-universitas Islam fakultas-fakultas agama (fardhu ‘ayn) tidak berperan menjadi rujukan atau menjadi asas bagi fakultas-fakultas umum (fardhu kifayah), ia justru dimarjinalkan.

Senin, 18 Oktober 2010

Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Oleh : Muhammad Faiq Dzaki

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah, maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada. Ciri-ciri MBS, bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, pengelolaan SDM, proses belajar-mengajar dan sumber daya.

Dengan demikian, MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility), kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang berkepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders).


Diharapkan dengan menerapkan manajemen pola MBS, sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal berikut:
¨ menyadari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi sekolah tersebut
¨ mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan
¨ mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya
¨ bertanggungjawab terhadap orangtua, masyarakat, lembaga terkait, dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah
¨ persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan.

Ciri-ciri Sekolah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), misalnya:
¨ Upaya meningkatkan peran serta Komite Sekolah, masyarakat, DUDI (dunia usaha dan dunia industri) untuk mendukung kinerja sekolah
¨ Program sekolah disusun dan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan proses belajar mengajar (kurikulum), bukan kepentingan administratif saja.
¨ Menerapkan prinsip efektivitas dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya sekolah (anggaran, personil dan fasilitas)
¨ Mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi lingkungan sekolah walau berbeda dari pola umum atau kebiasaan.
¨ Menjamin terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab kepada masyarakat.
¨ Meningkatkan profesionalisme personil sekolah.
¨ Meningkatnya kemandirian sekolah di segala bidang.
¨ Adanya keterlibatan semua unsur terkait dalam perencanaan program sekolah (misal: KS, guru, Komite Sekolah, tokoh masyarakat,dll).
¨ Adanya keterbukaan dalam pengelolaan anggaran pendidikan sekolah.

BERTEMAN DENGAN SAYA